Lensapapua, Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Sorong mulai menimbulkan dampak serius terhadap aktivitas masyarakat.
Memburuknya kualitas udara memaksa Disdikbud Kabupaten Sorong hentikan sementara pembelajaran tatap muka siswa jenjang TK hingga SLTA.
Kebijakan tersebut mulai berlaku Kamis, 8 Oktober 2026, dan akan berlangsung hingga adanya pemberitahuan atau edaran berikutnya.
Kepala Disdikbud Kabupaten Sorong, Andreas Taa, S.Ag. mengatakan, keputusan itu diambil sebagai langkah antisipasi terhadap kondisi kualitas udara yang semakin memburuk akibat dampak karhutla.
Hal tersebut disampaikannya kepada awak media di Kantor Bupati Sorong, Rabu (7/10/2026).
“Untuk siswa TK sampai SLTA belajar jarak jauh mulai tanggal 8 Oktober 2026 sampai ada pemberitahuan atau edaran berikutnya,” katanya.
Namun, kebijakan tersebut tidak berlaku bagi seluruh siswa. Siswa kelas XII yang sedang melakukan persiapan ujian tetap diperbolehkan hadir di sekolah.
Andreas juga menegaskan pentingnya penerapan protokol kesehatan di lingkungan pendidikan, termasuk penggunaan masker sebagai langkah perlindungan dari paparan udara yang tercemar.
Sementara untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), makanan akan diambil oleh orang tua siswa sehingga peserta didik tidak perlu datang ke sekolah hanya untuk menerima makanan.
PM2.5 5,6 Kali Panduan Tahunan WHO
Kekhawatiran terhadap kualitas udara bukan tanpa dasar.
Berdasarkan pemantauan IQAir pada Rabu (7/10/2026) malam, indeks kualitas udara atau US AQI di sekitar Aimas tercatat 87, yang masuk kategori Moderate atau sedang.
Polutan utama yang terpantau adalah PM2.5, yakni partikulat halus berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil, dengan konsentrasi mencapai 28,1 µg/m³.
Angka tersebut mencapai sekitar 5,6 kali nilai panduan tahunan WHO untuk PM2.5 sebesar 5 µg/m³.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Anak-anak termasuk kelompok yang perlu mendapat perlindungan lebih ketika kualitas udara memburuk.
Data IQAir juga menunjukkan kondisi kualitas udara diperkirakan belum segera membaik. Indeks kualitas udara diproyeksikan mencapai 93 pada Kamis (8/10/2026) dan 94 pada Jumat (9/10/2026), yang keduanya masih berada dalam kategori sedang.
Situasi tersebut membuat dampak karhutla kini tidak lagi sebatas persoalan lingkungan. Asap dan partikulat yang mencemari udara mulai mengganggu aktivitas pendidikan dan memaksa pemerintah daerah mengubah pola belajar ribuan peserta didik.
Di tengah kondisi tersebut, Disdikbud Kabupaten Sorong memilih langkah pencegahan dengan memindahkan aktivitas belajar dari ruang kelas ke rumah.
Sekolah pun diminta tetap memperhatikan protokol kesehatan, terutama penggunaan masker bagi mereka yang harus melakukan aktivitas di lingkungan sekolah.
Untuk sementara, ruang-ruang kelas di Kabupaten Sorong akan lebih banyak kosong mulai 8 Oktober, sementara proses pembelajaran berlangsung dari rumah.
Kapan siswa kembali ke sekolah masih bergantung pada perkembangan kualitas udara dan keputusan pemerintah daerah melalui pemberitahuan atau edaran selanjutnya. red

















