Berita  

Dari Taroi Tomu ke Kuala Kencana, Hamzah Harun Nabi Buktikan Anak Kampung Bisa Menembus Industri Freeport

Lensapapua, Jalan dari kampung halaman di Distrik Tomu, Kabupaten Teluk Bintuni, menuju dunia kerja di kawasan industri berskala nasional bukanlah perjalanan yang instan. Bagi Hamzah Harun Nabi, perjalanan itu dibangun dari keterampilan, sertifikasi, pengalaman, dan kemauan untuk terus bergerak.

 

Hamzah merupakan alumni P2TIM–Petrotekno Teluk Bintuni, Jurusan Rigger Angkatan ke-14 dengan kelompok “Phoenix”. Setelah menyelesaikan pelatihan, ia tidak berhenti pada satu kesempatan kerja. Pengalamannya terus bertambah melalui sejumlah proyek strategis, mulai dari kawasan industri IWIP Weda, fasilitas pengolahan gas bumi LNG Tangguh, hingga akhirnya dipercaya bekerja sebagai Rigger di lingkungan operasional PT Freeport Indonesia, Timika, melalui PT Cipta Krida Bahari.

 

Bagi Hamzah, masuk ke dunia industri hanyalah satu tahap. Tantangan berikutnya adalah bagaimana mempertahankan kepercayaan yang telah diberikan perusahaan. Dunia kerja, khususnya industri dengan standar keselamatan tinggi, menuntut tenaga kerja untuk terus memperbarui kemampuan dan membuktikan kompetensinya.

 

“Banyak alumni yang gagal bertahan bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena cepat merasa cukup dan pasif menunggu panggilan. Padahal, dunia kerja tidak menunggu kita—kitalah yang harus terus bergerak,” kata Hamzah.

Karena itu, Hamzah terus memperbarui sertifikasi profesinya, baik melalui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) maupun standar internasional ECITB. Ia juga menjaga dokumen kelayakan kerja tetap lengkap dan tertata, sembari membangun komunikasi dengan Dinas Tenaga Kerja, sesama alumni, hingga pengelola P2TIM.

 

Baginya, keterampilan tanpa kesiapan administrasi dapat menjadi penghambat ketika kesempatan datang. Sebaliknya, sertifikasi dan dokumen yang lengkap menjadi bagian dari bekal untuk menunjukkan bahwa tenaga kerja dari daerah juga siap memenuhi tuntutan industri.

 

“Mengajarkan keterampilan dan pengetahuan itu sama seperti memberikan kail dan jaring, bukan memberi ikan. Selama kita mau menjaring, hasil akan terus mengalir. Apalagi jika terus memperdalam ilmu, tangkapan itu akan makin besar,” ujarnya.

Perjalanan Hamzah membawa satu tujuan yang sederhana: mampu berdiri di atas kaki sendiri secara finansial, membanggakan keluarga, sekaligus membuktikan bahwa anak daerah Teluk Bintuni memiliki kesempatan untuk bersaing di dunia kerja. Bukan hanya di Papua, tetapi juga pada industri dengan standar nasional maupun internasional.

 

Kisahnya juga menjadi pesan bagi generasi muda, khususnya pemuda tujuh suku di Teluk Bintuni. Menurut Hamzah, kesempatan belajar harus dimanfaatkan sebaik mungkin karena pintu menuju dunia industri terbuka bagi mereka yang mempersiapkan diri dengan keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan.

 

“Jangan takut melangkah keluar dari zona nyaman. Manfaatkan setiap kesempatan belajar yang tersedia, salah satunya di P2TIM. Pintu industri di luar sana terbuka lebar—namun hanya bagi mereka yang membawa keahlian, sertifikasi, dan semangat untuk terus berkembang,” pesannya.

 

Dari Taroi, Tomu, sebuah kampung di Teluk Bintuni, perjalanan Hamzah akhirnya membawanya jauh hingga Kuala Kencana, Timika. Kisah tersebut menunjukkan bahwa jarak antara kampung dan pusat industri bukan alasan untuk membatasi mimpi. Dengan bekal keterampilan, kemauan belajar, dan keberanian mengambil kesempatan, anak daerah pun dapat menemukan jalannya sendiri di tengah luasnya dunia kerja. red

Share with

Exit mobile version