Lensapapua, Tiga tahun menekuni profesi scaffolder di lingkungan kerja PT Titian pada proyek British Petroleum (BP) Tangguh, Papua Barat, menjadi pencapaian tersendiri bagi Sajiman Solowat.
Pemuda asal Kampung Taroi, Distrik Tomu, Teluk Bintuni, dari suku Sebyar dan anak bungsu dari empat bersaudara itu, merupakan alumnus program Scaffolder P2TIM Angkatan 13 tahun 2023.
Bagi Sajiman, perjalanan kariernya tidak hanya dibentuk oleh keterampilan teknis. Pendidikan yang diterimanya selama mengikuti pelatihan P2TIM justru menjadi titik penting dalam membentuk cara berpikir, kedisiplinan hingga kepribadiannya.
“Sebagai perintis di keluarga, P2TIM tidak hanya memberi saya keahlian tapi juga kepribadian. Dulu saya tidak tahu cara membimbing diri, belum bisa hidup baik, tidak disiplin, dan belum tahu cara sukses,” kenang Sajiman.
Ia mengaku perubahan tersebut mulai dirasakan setelah mengikuti rangkaian pelatihan. Di sana, ia tidak hanya diperkenalkan pada dunia kerja, tetapi juga dibiasakan membangun pola hidup yang lebih teratur.
Salah satu hal yang paling membekas adalah pembentukan disiplin, mulai dari mengatur waktu sejak bangun pagi hingga kembali beristirahat pada malam hari.
“Salah satu skill yang sangat bermanfaat adalah pengenalan dan pembentukan kembali diri saya. Membentuk identitas baru, di mana saya diajarkan disiplin mulai dari bangun pagi sampai tidur malam,” ujarnya.
Menurut Sajiman, proses pembentukan tersebut kemudian dilengkapi dengan pembelajaran mengenai pengendalian emosi, komunikasi dan pola pikir untuk mencapai kesuksesan.
Ia juga mendapat bekal praktis yang berkaitan langsung dengan dunia kerja, mulai dari menyusun CV, memahami lingkungan kerja hingga mempersiapkan diri menghadapi wawancara.
Bagi Sajiman, materi-materi tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, justru menjadi bekal yang kemudian sangat berguna ketika dirinya memasuki dunia kerja.
Sementara dari sisi teknis, P2TIM membekalinya dengan kemampuan scaffolding serta pemahaman mengenai keselamatan kerja sesuai standar yang berlaku. Kompetensinya kemudian diperkuat melalui sertifikasi BNSP dan ECITB.
“Sedangkan soal teknis saya belajar scaffolding, saya belajar safety sesuai standar kerja yang berlaku dan bisa dinyatakan kompeten melalui sertifikasi BNSP dan ECITB,” jelasnya.
Kini, setelah tiga tahun menjalani karier di lingkungan BP Tangguh, Sajiman masih mempertahankan hubungan baik dengan P2TIM. Ia bahkan menyebut lembaga tersebut bukan sekadar tempat pelatihan, melainkan sudah seperti keluarga dan rumah kedua.
Menurutnya, kesempatan yang diberikan P2TIM juga tidak hanya berdampak bagi dirinya. Program tersebut, kata dia, membuka ruang bagi anak-anak dari tujuh suku di Papua yang ingin mengembangkan kemampuan dan mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.
Pengalaman yang dirasakannya kini membuat Sajiman ingin semakin banyak anak muda Papua memperoleh kesempatan serupa.
“Saya berharap saudara, teman, keluarga besar, semua bisa merasakan apa yang saya rasa. Membangun kesejahteraan, kesuksesan di tanah kita sendiri. Kita harus buktikan putra-putri lokal Papua adalah orang yang bisa diandalkan membangun negeri kita tercinta,” tutupnya. Red
